5000 Pesantren di Jabar Ditargetkan Punya Bisnis Sendiri dalam Waktu 5 Tahun

April 16, 2019

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Dinas Koperasi dan Usaha Kecil (KUK) Jawa Barat mengebut beberapa program unggulan, yakni One Pesantren One Product (OPOP), UMKM Naik Kelas, Koperasi Juara, serta Wirausaha Juara dan Digitalisasi Koperasi, pada 2019.

Program unggulan tersebut sejalan dengan misi Pemerintah Provinsi Jawa Barat yakni meningkatkan produktivitas dan daya saing ekonomi umat yang sejahtera dan adil, melalui pemanfaatan teknologi digital dan kolaborasi dengan pusat-pusat inovasi serta pelaku pembangunan.



“Program OPOP dan UMKM Juara sedang berjalan memasuki proses registrasi atau pendaftaran. Untuk program OPOP merupakan salah satu program dari 17 program Pasantren Juara. Kegiatan OPOP bertujuan mendorong pesantren di Jabar untuk mandiri secara ekonomi,” ujar Kepala Dinas KUK Jabar, Kusmana Hartadji, di Gedung Sate, Selasa (9/4/2019).

Ia mengatakan bahwa banyak pesantren memiliki potensi besar untuk membuka bisnis, tetapi perlu pedampingan, mulai dari penggalian potensi sampai pemasaran.

Dari 9.000 pesantren di Jabar, baru sebagian kecil yang memiliki kemandirian ekonomi. Padahal, pesantren sangat dimungkinkan mandiri dengan memberdayakan sumber daya yang dimiliki.

Pesantren dapat memiliki unit usaha untuk mengembangkan keberadaannya. Ia menyontohkan, Pondok Pesantren Al Ittifaq di Kabupaten Bandung yang memiliki unit usaha pertanian.

Produknya sudah dipasarkan ke sejumlah pasar modern di Indonesia.

Berbagai program ini UMKM ini dirancang dalam bentuk audisi. Nantinya akan ditentukan juara provinsi dan kabupaten kota yang akan berhak untuk hadiah pembinaan.

Pesantren tersebut, menurut dia, bukan hanya akan mengikuti audisi untuk dicari yang terbaik, tapi juga akan mendapatkan peningkatan wawasan dan pengetahuan.



http://jabar.tribunnews.com/2019/04/09/5000-pesantren-di-jabar-ditargetkan-punya-bisnis-sendiri-dalam-waktu-5-tahun.


Penulis: Muhamad Syarif Abdussalam
Editor: Theofilus Richard