1.011 Koperasi di Cianjur Gulung Tikar

September 14, 2018

CIANJUR, (PR).- Sebanyak 1.011 unit koperasi di Cianjur berhenti beroperasi karena kurang kuatnya peran kepengurusan. Dari total 1.457 unit, kini hanya 446 unit yang masih aktif beroperasi.

Kepala Bidang Koperasi dan UMKM Dinas Perdagangan, Perindustrian, dan KUMKM Kabupaten Cianjur, Judi Adi Nugroho mengatakan, banyaknya koperasi yang gulung tikar disebabkan oleh berbagai faktor. 

“Lemahnya peran organisasi koperasi, pengawasan, kelembagaan, dan kepengurusan menjadi penyebab yang mendasari 70 persen koperasi mati,” kata Judi, Kamis 13 September 2018.

Ia menjelaskan, saat ini koperasi yang sudah tidak aktif benar-benar menghentikan seluruh aktivitasnya. Sementara koperasi yang aktif, masih rutin melaksanakan RAT (rapat anggota tahunan) dan menjalankan usaha.

Menurut Judi, sebenarnya animo masyarakat untuk membentuk koperasi relatif cukup tinggi. Hanya saja, Dinas Perdagangan, Perindustrian, dan KUMKM setempat lebih selektif lagi memberikan izin rekomendasi pendirian koperasi. Hal itu dilakukan, agar koperasi itu benar-benar berkualitas. Harus ada semangat untuk fokus memanjkan kesejahteraan anggota.

“Makanya, kami sekarang gencar melakukan pembinaan agar koperasi yang sedang berjalan, bisa lebih kuat dari berbagai sektor. Biasanya, kami berikan pendidikan dan pelatihan untuk anggota, pengurus, maupun pengawas,” ucap dia.

Judi menilai, dengan begitu diharapkan para anggota, pengurus, dan pengawas bisa mengoptimalkan peran dan fungsinya masing-masing. Terutama, untuk meningkatkan kualitas SDM agar mampu menjalankan koperasi dengan baik.

Selain itu, Judi mengingatkan kepada masyarakat yang berniat mendirikan koperasi, agar selalu berkomitmen pada asas koperasi. “Jangan lupa bahwa koperasi itu dari anggota, oleh anggota, dan untuk anggota. Jika persepsinya sudah sama, saya yakin sebuah koperasi bisa dikelola dengan baik,” kata dia menjelaskan. Ia menegaskan, SDM di koperasi harus mengetahui dan memahami kelemahan maupun kekuatan dalam menjalankan fungsinya.

Revitalisasi

Sementara itu, Ketua Dewan Koperasi Indonesia Daerah (Dekopinda) Kabupaten Cianjur, Harry Sastrakusumah mengatakan, sebenarnya 1.011 koperasi yang disebut tidak aktif itu harusnya bisa dikategorikan ulang.

“Melalui program revitalisasi,  koperasi dipetakan menjadi 3  yaitu koperasi yang harus direhabilitasi, koperasi yang harus direorientasi dan koperasi yang harus dikembangkan. Sehingga, koperasi dapat kembali aktif menjalankan roda organisasi kelembagaan, usaha keuangan, dan permodalannya,” ujar Harry.

Ia menjelaskan, pada dasarnya alasan tidak beroperasinya lagi koperasi terjadi karena banyak faktor. Diantaranya, tujuan pendirian yang didasari oleh sokongan dana, dimana koperasi akan berhenti setelah dana habis. 

Kemudian, lemahnya pemahaman mengenai koperasi didukung sistem adaptasi yang kurang baik menjadi faktor selanjutnya. “Hal-hal itu, yang membuat pengelolaan koperasi menjadi monoton dan perkembangannya jadi lambat,” ucapnya.

Oleh karena itu, Harry mengingatkan pemerintah bahwa koperasi adalah urusan yang wajib. Membina dan membangun koperasi bukan hal mudah, sehingga dibutuhkan keseriusan yang dilakukan bersama-sama. Harry menjelaskan, sinergi dan kolaborasi dengan seluruh stakeholder harus ditingkatkan agar tercipta akselerasi pencapaian. 

Ia juga mengingatkan, kepada gerakan koperasi agar lebih menyadari perubahan zaman. Setiap pegiatnya harus kembali kepasa jati diri koperasi, dilanjutkan dengan merapatkan barisan agar tetap satu wadah.***

sumber:http://www.pikiran-rakyat.com/jawa-barat/2018/09/13/1011-koperasi-di-cianjur-gulung-tikar-430090