Duh… Rentenir Berkedok Koperasi Marak di Cianjur

February 14, 2018

POJOKJABAR.com, CIANJUR Rentenir berkedok koperasi semakin meresahkan warga Kabupaten Cianjur. Bukan tanpa sebab, kabupaten dengan julukan Kota Tatar Santri dengan mayoritas muslim, warganya banyak yang terlilit hutang dari rentenir.

Modal usaha menjadi hal yang krusial dalam memulai dan mengembang usaha, terutama bagi pedagang kecil. Meski beberapa pedagang telah mencoba, untuk mengajukan pinjaman ke badan usaha pemerintah atau swasta, selalu gagal dengan tidak adanya anggunan dalam pengajuan. Sehingga memilih meminjam kepada rentenir meski bunga pinjamannya besar.

Pantauan di lapangan, sepanjang jalan Perintis kemerdekaan, Prof Mochamad Yamin hingga sampai simpang empat Ramayana, sebagian besar pedagang kecil meminjam dari rentenir atau yang biasa mereka sebut kosipa (koperasi simpan pinjam).

Sulitnya pedagang kecil mendapatkan pinjaman menjadi peluang besar bagi rentenir, dan diterima baik oleh pedagang kecil, meski bunga pinjaman yang diberikan antara 25 hingga 30 persen.

Sementara, Yayan (43) seorang pedagang kelontong sudah berjualan selama tujuh tahun mengatakan, tidak ada pilihan lain karena susahnya mendapatkan pinjaman dari badan usaha pemerintah atau swasta jika tak memiliki jaminan.

“Sudah coba pinjam kesana kemari, nihil hasilnya yang ada malah buang biaya. Selalu jaminan yang ditanyakan, meski nilai yang ingin diajukan kecil,” ujar Yayan saat dihubungi di Jalan Arief Rahman Hakim, Senin (12/2/2018).

Nunung (51), pedagang gorengan, menerangkan untuk pedagang kecil, pinjaman dari rentenir awalnya hanya sebesar 500 ribu. Setiap hari selama 25 hari harus dicicil 25 ribu, kalau dihitung bunganya 25 persen.

“Bila lancar baru bisa nambah jumlah pinjamannya, teman saya ada yang meminjam hingga tiga juta untuk usahanya yang harus dilunasi dalam tiga bulan,” ujarnya, kemarin.

Masih menurut Nunung, selain bunga, jika telat membayar akan dikenakan denda lagi sehingga akan semakin besar jika tidak segera dilunasi. Beruntung dirinya tidak pernah telah membayar, sehingga tidak mengtahui pasti denda yang dikenakan jika telat perharinya.

“Dikenakan denda harian jika telat membayar angsuran,” ungkap, Nunung.

Di lain pihak, anggota Komisi II DPRD Cianjur, Mohammad Toha meminta warga Cianjur agar tidak tergiur pinjaman yang mudah. Apalagi pinjaman dengan bunga yang tinggi.

“Bunga pinjaman koperasi sudah ada aturannya, dan itu pun kecil tidak lebih dari 6 persen. Itu juga harus berdasarkan keputusan musyawarah anggotanya,” ujar Toha saat ditemui di gedumg wakil rakyat.

Toha berharap kepada Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) mengevaluasi kembali sejumlah koperasi yang terindikasi sebagai rentenir. Karena hal itu jelas sangat bertolak belakang dengan julukan Cianjur sebagai Kota Tatar Santri.

“Harus segera dievaluasi dan ditindak. Harus segera dibongkar rentenir berkedok koperasi yang beroperasinal di Kota Tatar Santri,” tegasnya.

(radar cianjur/mat)

sumber: http://jabar.pojoksatu.id/cianjur/2018/02/13/duh-rentenir-berkedok-koperasi-marak-di-cianjur/