Koperasi 52 Netra, Keterbatasan Bukan Batasan

February 13, 2018


BANDUNG, bandungkiwari- Banyak orang berupaya mendirikan koperasi. Baik itu bentuknya simpan pinjam, konsumen, dan lain sebagainya. Ada yang sukses ada pula yang berakhir dengan kegagalan.

Saat ini jumlah koperasi di Kota Bandung, Jawa Barat, kurang lebih mencapai 828 koperasi. Sebanyak 500 di antaranya dinilai sehat oleh pemerintah.

Rupanya, asas organisasi ekonomi bernama koperasi yang dimiliki dan dioperasikan demi kepentingan bersama itu, dimanfaatkan oleh kelompok pemuda pemudi disabilitas netra. Bermodal patungan, kelompok muda disabilitas netra tersebut mendirikan Koperasi. Namanya Koperasi 52 Netra, berlokasi di Panti Sosial Bina Netra (PSBN) Wyataguna, Jalan Pajajaran, Bandung.

Menurut juru bicara Koperasi 52 Netra, Riyanto, didirikannya koperasi berawal dari ngobrol iseng dengan beberapa rekan. Bersepakatlah mereka pada Januari 2017 lalu, mendirikan koperasi konsumen dengan modal awal Rp 1,5 juta.

"Kita kan suka jajan, sayang kalau uangnya dibelanjain keluar. Jadi gimana caranya uang itu balik lagi ke kita," ujar Riyanto (25) di Bandung, Rabu (7/2/2018).

Riyanto mengatakan barang dagangan Koperasi 52 Netra, berasal dari sebuah toko kelontong beberapa ratus meter dari lokasinya. Bukan tanpa kendala saat pertama mereka berbelanja. Pada saat berbelanja mereka tidak menggunakan kendaraan, selain itu mereka juga keterbatasan penglihatan.

Namun semuanya itu dapat teratasi. Pemilik toko kelontong menyanggupi mengantarkan barang yang sudah dibeli. Hal itu dilakukan usai mendengar penjelasan dari Riyanto. "Saya bilang ke dia (pemilik kelontong), kan belanjanya juga enggak sedikit. Kalau mau dianterin entar berlangganan," kata Riyanto.

Ruangan koperasi yang berukuran luas kira - kira 2 x 3 meter persegi, penuh dengan suguhan barang untuk dijual. Lengkap dengan meja kasir dan kulkas minuman ringan. Dagangan yang ditawarkan mulai dari cemilan, mi instan, air mineral, sikat gigi, sabun cuci sampai tembakau siap saji.

Usai beroperasi hampir 1 tahun 5 bulan, pasokan barang dagangan Koperasi 52 Netra tak ada kendala. Itu merupakan hasil lobby dan negosiasi pengurus koperasi kepada pemilik toko kelontong. Jika memerlukan pasokan barang, hanya tinggal memesan melalui telepon. "Tinggal panggil dan pesan. Kan belinya juga senilai Rp 400 - 500 ribu setiap pesan. Bukan beli yang cemen-cemen (sedikit)," jelas Riyanto

Salah satu anggota Koperasi 52 Netra, Junaedi (21), mengatakan adanya organisasi yang berdasarkan prinsip gerakan ekonomi rakyat dengan asas kekeluargaan, diakui sangat membantu. Selain jadi lokasi berdiskusi dan berkumpul, juga memudahkan penghuni panti untuk memenuhi keperluan.

Junaedi mengaku bahwa sampai sekarang, seluruh operasional Koperasi 52 Netra itu tidak ada campur-tangan dari pihak manapun. Termasuk dari pengurus PSBN Wyataguna. "Murni semuanya dari kita sendiri. Tidak ada bantuan dari pihak mana pun," kata Junaedi.

Tidak adanya bantuan ini justru membuat mereka bertahan. Bahkan, kata Kepala Divisi Pendidikan Koperasi 52 Netra, Elda Fahmi (17), kondisi seperti ini membuat mereka bertahan dan belajar.

Contohnya di meja kasir. Mereka mendesain sendiri kotak penyimpanan uang, sesuai dengan masing - masing besarannya. Meski menggunakan bekas kertas kardus, namun efektif dalam proses transaksi.

"Lumayan tiap bulan sekarang untungnya setengah juta," kata Elda.

Untuk masalah pembagian keuntungan, mereka menerapkan aturan yang fleksibel. Seperti sisa hasil keuntungan keseluruhan dibagikan ke semua anggota. Anggota yang piket jaga koperasi, memperoleh keuntungan setengahnya dari total barang yang diijual dalam sehari. Jika yang berjaga yang memiliki saham, maka keuntungan penjualan menjadi miliknya penuh.

Koperasi 52 Netra Wyataguna Bandung juga melayani pembeli dari warga sekitar. Mereka mulai beroperasi dari pukul 10.00 - 21.00 WIB. Meski lokasi tak strategis, koperasi ini tetap dinamis dengan banyaknya pembeli yang datang.


(Arie Nugraha)

sumber : https://kumparan.com/bandungkiwari/koperasi-52-netra-keterbatasan-bukan-batasan